Lebih dari Sekadar Likes: Bahaya Riya dan Flexing Kekayaan di Media Sosial bagi Pelajar SMK Salatiga

Halo, Kawan-kawan Pelajar SMK di Salatiga! Siapa di antara kalian yang tidak menggunakan media sosial? Rasanya hampir mustahil di era digital ini. Mulai dari Instagram, TikTok, Facebook, hingga Twitter, media sosial sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Platform-platform ini menawarkan banyak sekali manfaat, mulai dari berbagi informasi, menjalin silaturahmi, hingga tempat untuk berekspresi dan berkreasi.

Namun, di balik segala kemudahaya, media sosial juga menyimpan potensi bahaya jika tidak digunakan dengan bijak. Salah satu fenomena yang sedang marak dan perlu kita waspadai adalah sifat riya dan kebiasaan flexing kekayaan. Kedua hal ini, jika dibiarkan, bisa berdampak buruk tidak hanya pada diri sendiri tetapi juga pada lingkungan sosial kita, terutama bagi kalian yang sedang dalam masa pembentukan karakter di bangku SMK.

Media Sosial: Pedang Bermata Dua di Era Digital

Media sosial ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi alat yang ampuh untuk hal-hal positif. Kalian bisa belajar hal baru, menemukan inspirasi, membangun jaringan, atau bahkan memulai bisnis kecil. Banyak juga pelajar yang memanfaatkaya untuk menyalurkan bakat dan kreativitas, dari membuat konten edukatif hingga karya seni digital.

Namun, di sisi lain, media sosial juga sering menjadi panggung untuk menampilkan kehidupan yang sempurna, terkadang jauh dari kenyataan. Tekanan untuk selalu terlihat bahagia, kaya, atau populer seringkali mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang disebut riya atau flexing, demi mendapatkan pengakuan dan validasi dari orang lain.

Mengenal Lebih Dekat: Apa Itu Riya dan Flexing Kekayaan?

Mungkin kalian sering mendengar istilah ini, tapi mari kita pahami lebih dalam apa sebenarnya riya dan flexing kekayaan.

Riya: Motif di Balik Pujian

Secara sederhana, riya adalah melakukan suatu perbuatan baik atau menunjukkan kemampuan dengan tujuan agar dilihat, dipuji, atau diakui orang lain, bukan karena ketulusan hati atau motivasi internal. Dalam konteks media sosial, riya bisa berupa:

  • Memposting foto sedang belajar keras atau mengerjakan tugas penting hanya agar dinilai sebagai pelajar rajin.
  • Menceritakan atau memamerkan perbuatan baik seperti membantu teman atau berdonasi, semata-mata untuk mendapatkan pujian dan simpati.
  • Mengunggah aktivitas keagamaan atau ibadah hanya agar dianggap sebagai orang yang religius.

Intinya, riya adalah ketika niat awal sebuah perbuatan bergeser dari tulus menjadi mencari validasi eksternal.

Flexing Kekayaan: Pamer Harta dan Gaya Hidup

Flexing kekayaan adalah tindakan pamer atau menunjukkan harta benda, kekayaan, atau gaya hidup mewah di media sosial. Tujuaya hampir sama dengan riya, yaitu untuk menarik perhatian, mengundang decak kagum, atau menunjukkan status sosial. Contohnya:

  • Mengunggah foto atau video sedang mengenakan pakaian branded mahal, jam tangan mewah, atau aksesori mahal.
  • Memamerkan kendaraan terbaru, gadget canggih, atau tumpukan uang tunai.
  • Sering memposting sedang liburan ke tempat-tempat mewah atau makan di restoran mahal yang harganya fantastis.

Fenomena ini seringkali dilakukan untuk membangun citra diri yang “wah” dan menciptakan persepsi bahwa hidupnya jauh lebih baik dari orang lain.

Dampak Negatif Riya dan Flexing bagi Pelajar SMK

Sebagai pelajar SMK di Salatiga, kalian adalah generasi penerus yang perlu fokus pada pendidikan dan pengembangan diri. Sifat riya dan kebiasaan flexing bisa membawa berbagai dampak negatif yang menghambat potensi kalian.

1. Memicu Rasa Iri dan Insecure

Ketika seseorang terus-menerus melihat pameran kekayaan atau “kesempurnaan” orang lain di media sosial, ini bisa memicu rasa iri hati dan insecure (merasa tidak aman atau kurang). Kalian mungkin mulai membandingkan diri sendiri, merasa tidak cukup, atau bahkan depresi karena tidak bisa memiliki apa yang orang lain pamerkan. Ingat, apa yang terlihat di media sosial seringkali hanyalah bagian kecil dan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan.

2. Gaya Hidup Konsumtif dan Materialistis

Tekanan untuk “mengikuti tren” atau tidak mau kalah dengan yang dipamerkan teman-teman bisa mendorong kalian menjadi pribadi yang konsumtif. Kalian mungkin merasa harus memiliki barang-barang mewah terbaru atau mengikuti gaya hidup tertentu, padahal itu di luar kemampuan atau kebutuhan. Ini bisa menyebabkan pemborosan, terlilit utang, atau bahkan memicu tindakaegatif demi mendapatkan apa yang diinginkan.

3. Kehilangan Kesenangan Sejati dan Motivasi Internal

Jika segala sesuatu yang kalian lakukan hanya demi pujian atau validasi di media sosial, kalian akan kehilangan kesenangan sejati dari perbuatan itu sendiri. Motivasi belajar, berkarya, atau berbuat baik akan luntur karena fokusnya bukan lagi pada proses atau hasil yang tulus, melainkan pada jumlah ‘like’ atau komentar. Ini bisa membuat kalian cepat bosan, tidak bersemangat, dan merasa kosong.

4. Risiko Keamanan dan Privasi

Memamerkan kekayaan di media sosial secara berlebihan juga bisa mengundang bahaya nyata. Informasi mengenai harta benda atau lokasi kalian bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab, seperti pencuri atau penipu. Kalian bisa menjadi target kejahatan atau sasaran orang-orang yang berniat buruk.

5. Merusak Hubungan Sosial

Teman yang selalu pamer atau riya seringkali kurang disukai. Kebiasaan ini bisa membuat kalian terlihat sombong atau tidak tulus, sehingga merusak hubungan pertemanan dan sosial. Orang lain mungkin menjauh atau merasa tidak nyaman, dan pada akhirnya kalian akan kehilangan pertemanan yang tulus.

Membangun Kebiasaan Media Sosial yang Sehat

Lalu, bagaimana agar kita bisa terhindar dari bahaya riya dan flexing? Kuncinya adalah menjadi pengguna media sosial yang cerdas dan bijak:

  • Fokus pada Diri Sendiri: Ingatlah bahwa nilai diri kalian tidak ditentukan oleh seberapa banyak ‘like’ atau barang mewah yang kalian punya. Fokuslah pada pengembangan diri, keterampilan, dan karakter positif.
  • Tentukan Tujuan Posting: Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan pada diri sendiri, “Apa tujuanku memposting ini?” Apakah untuk berbagi informasi bermanfaat, menginspirasi, atau hanya ingin dipuji?
  • Batasi Waktu Layar: Jangan biarkan media sosial menguasai hidup kalian. Sisihkan waktu untuk aktivitas dunia nyata, berinteraksi langsung dengan teman dan keluarga, serta menekuni hobi.
  • Jaga Privasi: Tidak semua hal perlu diumbar di media sosial. Lindungi informasi pribadi dan jangan mudah terpancing untuk memamerkan apa yang kalian miliki.
  • Jadilah Pengguna yang Positif: Gunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif, mendukung teman, belajar, dan menginspirasi orang lain, bukan untuk memicu iri atau pamer.

Kesimpulan

Kawan-kawan Pelajar SMK di Salatiga, media sosial adalah alat yang luar biasa jika digunakan dengan benar. Namun, riya dan flexing kekayaan adalah dua sisi gelap yang bisa merusak kesehatan mental, finansial, dan hubungan sosial kalian. Pilihlah untuk menjadi pribadi yang autentik, bersyukur dengan apa yang dimiliki, dan fokus pada tujuan hidup yang lebih bermakna. Jadikan media sosial sebagai sarana untuk belajar dan berkembang, bukan sebagai panggung untuk mencari validasi semu. Semoga kalian selalu bijak dalam menggunakan media sosial dan meraih masa depan gemilang!

Leave a Comment